Dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Dan Kuantitas Kegiatan Pendidikan, Penelitian, Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM ITG melakukan kerjasama dengan Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi ITB

Sebagian besar capaian pembelajaran dalam kurikulum pendidikan saat ini lebih menekankan terhadap aspek hard skill. Pengukuran suatu level hard skills banyak dibuktikan dengan ijazah akademik, sertifikat kompetensi, bobot nilai ujian, dan bentuk kuantifikasi kemampuan teknis lainnya.

Kepala LPPM ITG Dewi Tresnawati, M.T. sedang menandatangani MoU

Namun, hal ini dinilai kurang sempurna dalam mengukur kualitas pribadi seseorang. Sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga cerdas dalam aspek soft skill. Seorang mahasiswa yang telah lulus dan memiliki kompetensi teknis terhadap bidang keilmuannya belum tentu dapat beradaptasi, bekerja sama dalam tim, serta menjalin hubungan personal yang baik dengan rekan kerjanya.

Hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja tim dalam perusahaan tempat ia bekerja, hubungan emosional dan sosial antara sesama teman kerja dan atasan, serta dampak psikologis lain yang lebih luas. Salah satu survey mengenai soft skill telah dilakukan oleh National Association of Colleges (NACE) tahun 2002 di Amerika Serikat, terhadap 457 pengusaha disana. Survey ini melibatkan 20 variabel yang dianggap berhubungan langsung dengan kesuksesan karir seseorang. Hasil survey tersebut mengatakan bahwa peran IP (indeks Prestasi) yang selama ini menjadi tolak ukur kualitas lulusan sebuah perguruan tinggi, ternyata menempati urutan ke-17 dari 20 variabel survey tersebut. Oleh karena itu, perguruan tinggi seharusnya lebih concern untuk membenahi kualitas dan fokus kurikulum sehingga mendukung pengembangan kemampuan soft skill mahasiswa.

Belum ada kesepakatan pakar terkait pengelompokan softskills. Hal ini berakibat uraian tentang soft skills sangat berbeda antar pakar. Namun demikian dalam strategi Pendidikan abad 21 Kementrian Pendidikan Amerika Serikat dapat membantu kita untuk membagi soft skills menjadi thinking skills (keterampilan berpikir/bernalar), communication skills (keterampilan berkomunikasi) dan behavioral competence (kompetensi berperilaku atau sikap kerja).
Soft skill tidak hanya dapat diterapkan di berbagai jenis pekerjaan, tetapi juga untuk peningkatan dan pengembangan diri, mempromosikan diri dengan cara yang tepat, menemukan pekerjaan yang lebih baik dan mampu berkontribusi secara positif terhadap perusahaan atau organisasi. Soft skill berkontribusi pada prestasi kerja dalam kombinasi dengan keterampilan teknis atau hard skill dan pengetahuan, keterampilan dasar (bahasa, literasi, numerasi) dan nilai-nilai pribadi.

Kegiatan MKBM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) yang dicanangkan Kemdikbudristek membutuhkan lebih dari sekedar hard skill mahasiswa yang didapatkan dari kegiatan perkuliahan, melainkan juga perlu soft skill untuk dapat menjadi bekal mahasiswa melaksanakan kegiatan tersebut.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
• Mendiskusikan mengenai implementasi pengembangan soft skill mahasiswa khususnya mahasiswa bidang keilmuan Teknik
• Mendiskusikan mengenai penerapan pembelajaran softskill bagi mahasiswa
• Mendiskusikan mengenai cara asesmen soft skill melalui pembelajaran daring

Kegiatan ini berlangsung pada hari Rabu 17 November 2021 bertempat di Sky Lounge Hotel Four Points by Sheraton Bandung berlangsung pukul 12.00 WIB – 20.00 WIB

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *